3. Tujuan Filsafat Imu
- Memperdalam unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh dapat dipahami sumber, hakikat, dan tujuan ilmu,
- Memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan serta kemajuan ilmu diberbagai bidang sehingga dapat diperoleh gambaran proses penemuan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai pada zaman postmodern.
- Mempertegas bahwa antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.[27]
C. Definisi
Filsafat
Menurut Nadiroh
filsafat adalah akar dari segala pengetahuan manusia baik pengetahuan ilmiah
maupun pengetahuan non ilmiah.[28]
Filsafat berasal dari kata philos dan shopia, philos artinya
berpikir dan shopia artinya kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah cinta kepada
kebijaksanaan. Berpikir artinya mengolah data indrawi menjadi pengertian, atau
proses mencari makna, dan kebijaksanaan artinya pengambilan keputusan yang
memihak pada yang lemah. Dengan demikian filsafat dapat diartikan berpikir
mendalam tentang data indrawi dan pengambilan keputusan yang memihak kepada
pihak yang lemah.[29]
Sementara
Suriasumantri mengatakan bahwa falsafah diartikan sebagai suatu cara
berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas
sesuatau sedalam-dalamnya.[30]
Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu
merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat
ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya.
Pengetahuan
ialah
hasil tahu manusia mengenai sesuatu objek, atau hasil tahu karena
diberitahu oleh orang lain. Tahu adalah hasil objek otak setelah mengolah
pengalaman indrawi, atau setelah diberitahu orang lain. Hasil kerja otak
setelah mengolah pengalaman indrawi disebut pengetahuan langsung, sedangkan
hasil kerja otak setelah diberitahu orang lain disebut pengetahuan tidak
langsung. [31]
pengetahuan langsung diperoleh melalui praktek, sedangkan pengetahuan tidak
langsung diperoleh melalui sekolah dan diskusi-diskusi. Pada dasarnya manusia
menggunakan pengetahuannya sebagai dasar untuk bertindak.
Menurut Semiawan,
otak manusia dewasa tidak lebih dari 1.5 kg, namun otak tersebut adalah pusat
berpikir, perilaku serta emosi manusia yang mencerminkan seluruh dirinya
(selfhood), kebudayaan, kejiwaan, serta bahasa dan ingatannya.[32]
Kearifan
ialah
perilaku manusia berdasar pengetahuan langsung (pengalaman sendiri) dan
pengetahuan tidak langsung (pengalaman masyarakat). Manusia yang arif adalah
manusia yang tingkah lakunya didasarkan pada pengetahuan masyarakat untuk
membela kepentingan pihak lemah. Makin luas pengetahuan seseorang, makin arif
perilakunya dan makin berpihak kepada pihak yang lemah.[33]
Kebijaksanaan
ialah
perilaku manusia berdasar ilmu untuk membela pihak yang lemah. Orang yang
bijaksana adalah orang yang mampu membuat keseimbangan dalam segala pikiran dan
perilakunya, dan mempunyai pendirian teguh dalam mengambil keputusan yang
memihak kepada yang lemah.[34]
Menurut Preus[35]
kata filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan
dari bahasa Arab,
yang juga diambil dari bahasa Yunani;
Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata
majemuk dan berasal dari kata-kata philia (= persahabatan, cinta dsb.)
dan sophia yang bermakna ‘kebijaksanaan’. sehingga arti lughowinya (semantic)
adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”.Sejajar dengan kata
filsafat, kata filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup
luas dan sering digunakan oleh semua kalangan.
Kearifan berarti
pengetahuan yang mendalam yang diawali proses perenungan dengan
menghubungkannya dengan pengetahuan lain sehingga menemukan implikasi yang
bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.[36]
Kemudian, menurut Yunus[37]
diterjemahkan menjadi “cinta akan kebenaran” yang bersumber dari kata philos
(cinta) dan shopia (kebenaran).Walaupun cinta kebenaran, filsafat harus
bersifat bebas, radikal, dan bermakna (Asy’ari, 1999). Bebas artinya tidak ada
yang menghalangi kerja pikiran. Radikal artinya berpikir sampai ke akar-akar
masalah (mendalam) bahkan sampai melewati batas-batas fisik atau disebut
metafisis.Berpikir dalam tahap makna berarti menemukan makna terdalam dari sesuatu
yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut bisa berupa nilai-nilai seperti
kebenaran, keindahan maupun kebaikan.
Gambar 1.1: Bangunan
Filsafat[38]
yang mendorong lahirnya filsafat
|
FILSAFAT
|
|
MANUSIA
BERPIKIR
KEKAGUMAN
KEHERANAN
KRITIS-DIALEKTIS
|
|
HAL-HAL
YANG KONGKRET
|
Menurut
Prawironegoro, filsafat lahir karena keraguan (skeptic), kekaguman (keheranan),
dan dari perilaku kritis (mempertanyakan) terhadap gejala alam dan social.[39]
Sementara
Suriasumantri mengatakah bahwa lahirnya filsafat karena manusia merasa kagum
dan merasa heran terhadap dunia
sekelilingnya. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah
pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, keherannya meluas pada berbagai hal karena
persoalan manusia yang makin
kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat
"filsafat tentang" sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang
tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah,
dan lainnya. Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk: Pertama,
filsafat tentang pengetahuan; obyek materialnya,: pengetahuan
("episteme") dan kebenaran, epistemologi; logika; dan kritik
ilmu-ilmu; Kedua, filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan, obyek
materialnya: eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum
(ontologi); metafisika khusus: antropologi (tentang manusia); kosmologi
(tentang alam semesta); teologi (tentang tuhan); Ketiga filsafat
tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan: obyek material:
kebaikan dan keindahan,etika; danestetika; Keempat . sejarah filsafat;
menyangkut dimensi ruang dan waktu dalam sebuah kajian.[40]
Jika dikelompokkan
secara kerakterisitik cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran
filsafat. Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga konsep pokok
yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak
bersifat empiris, dan menyangkut masalah-masalah asasi.[41]
Kemudian, Kattsoff menyatakan bahwa
karakteristik filsafat dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) filsafat
membawa kita kepada pemahaman dan tindakan ; (2) pemikiran secara ketat dan
kritis; (3) filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis; (4)
filsafat bersifat koheren; (5) filsafat adalah berpikir secara rasional; dan
(6) filsafat bersifat komprehensif. Jadi berpikir dalam filsafat mengandung
makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis,
tertib,rasional dan komprehensif.[42]
Berbeda halnya dengan
Alwasilah[43]
yang berpendapat bahwa ibu dari segala ilmu pengetahuan karena filsafat sebagai
kegiatan berpikir terhadap fenomena yang ada dengan metode dialektika (dialectic),
yaitu suatu kajian konseptual dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, sejumlah
jawaban, dan membangun berbagai implikasi dari jawaban-jawaban itu secara
berkelanjutan dalam lingkaran tanpa titik akhir. Metode ini sering disebut
sebagai dialek Socrates. Menurut Socrates (469-399 SM) cara terbaik untuk mendapatkan
pengetahuan adalah lewat pembicaraan yang teratur (disciplined conversation)
dengan memainkan peranan seorang intellectual midwife, yang memberi umpan sebagai rangsangan kepada
seseorang untuk dipikirkan secara serius. Dialog semacam ini akan memunculkan
titik temu (interplay) antar gagasan. Fungsi distingtif dari filsafat
adalah interprestasi makna (the interprestation of meaning).
Pekerjaan filsafat ialah mengkoordinasikan analisis, evaluasi, dan sintesis
sehingga menghasilkan konstruksi pandangan sinoptik dari keseluruhan pengalaman
manusia yang dapat diekspresikan sebagaimana dapat diinterpretasikan dalam
kategori-kategori wacana rasional.[44]
Atau dalam kata lain,filsafat sebagai usaha untuk mencoba memahami segala yang
datang ke dalam pengalaman manusia. Usaha itu dimaksudkan untuk memperoleh
suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, termasuk manusia, serta
mendapatkan suatu penjelasan yang universal mengenai sifat dasar dari berbagai
hal mengenai tempat dan nasib manusia sehingga mampu memahami dirinya dengan
lebih baik, serta hubungannya dengan alam semesta dan pencipta alam semesta.[45].
Secara praktis
filsafat dijelaskan oleh Syadali dan Mudzakir[46]
sebagai alam pikiran atau alam berpikir.Lebih lanjut beliau menjelaskan
berfilsafat artinya berpikir. Namun, tidak semua berpikir berarti
berfilsafat.Berfilsafat harus berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh
tentang kebenaran segala sesuatu.Hal ini senada dengan pendapat Yunus[47],
menurutnya filsafat berusaha merenungkan dan memikirkan segala sesuatu yang ada
kaitannya dengan manusia, sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman serta
mampu menggambarkan pandangan hakekat kebenaran yang menyeluruh dan
sistematis.Dengan harapan memperoleh ide dasar yang bersifat fundamental (fundamental
idea) dan membentuk cara berpikir kritis (critical thought), dan
menjunjung tinggi kebebasan serta keterbukaan intelektual (intellectual
freedom).[48]
Orang yang pertama
kali menggunakan istilah filsafat adalah Phithagoras (572-497 M). Ketika itu ia
ditanya oleh Leon tentang pekerjaannya, ia menjawab sebagai philosophis artinya
pencinta kearifan atau kebijaksanaan. Secara umum filsafat mempunyai ciri-ciri:
persoalan filsafat bercorak sangat dan tidak bersifat empiris, serta menyangkut
masalah-masalah asasi.[49]
Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih
terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras
menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan).Baginya kearifan yang
sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.Kemudian, orang yang oleh
para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales
(640-546 S.M.).Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam
semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos,
filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal
mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.
Kemudian Syadali dan Mudzakir[50]
menjelaskan bahwa berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir
yang sangat mendalam sampai kepada hakikat, atau berpikir secara global
(menyeluruh), atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran
atau sudut pandang ilmu pengetahuan.Berpikir yang demikian sebagai upaya untuk
dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal
ini harus memenuhi persayaratan:
a. Harus
Sistematis
b. Harus
Konsepsional
c. Harus
Koheren
d. Harus
Rasional
e. Harus
Sinoptik
f. Harus
Mengarah kepada Pandangan Dunia
Filsafat merupakan
pengetahuan tentang sesuatu yang nonempirik dan noneksperimental yang diperoleh
manusia melalui usahanya dengan pikirannnya yang mendalam. Mengenai objek
materialnya, tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan, yakni mengenai apa saja.
Adapun yang berbeda adalah mengenai objek formalnya. Objek formal filsafat
mengenai sesuatu yang menyangkut sifat dasar, arti, nilai, dan hakikat dari
sesuatu.Jadi bukan sesuatu yang dapat dijangkau dengan indera dan
percobaan.Menjangkaunya hanyalah mungkin dengan pemikiran filosofis, yaitu
pemikiran yang mendalam, logis, dan rasional. Di sini nilai kebenaran
spekulatif, karena tidak mungkin diuji dengan metode empirik dan eksperimen.
Oleh karena itu, biasanya dalam menghadapi hasil filsafati, orang hanya
mengatakan aku cenderung pada pendapat ini, dan tidak setuju pada pendapat itu,
dan sebagainya.Berbeda dengan agama kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan
mengenai berbagai hal kehidupan manusia dan lingkungannya.Jadi kebenaran agama
buka merupakan hasil usaha manusia. Manusia tinggal menerima begitu saja
berbagai paket Tuhan dan kebenarannya bersifat mutlak karena bagi orang yang
beriman diyakini bahwa datanya dari Tuhan yang Maha Kuasa, diberikan kepada
manusia untuk dijadikan petunjuk dan pedoman hidupnya.[51]
Walaupun kajian
filsafat bersifat nonempirik tetapi, harus juga dapat menjelaskan mengkaji
persoalan-persoalan konseptual dengan argumen yang bersifat empiris
(pengalaman), apriori (keyakinan-keyakinan yang juga tidak bisa disalahkan oleh
pengalaman), dan normatif (apa yang seharusnya) Woodhouse. Sifat empiris
merupakan keyakinan-keyakinan aposteriori bahwa sesuatu ternyata demikian dan
didasarkan pada pengalaman. Jenis empiris pertama ditentukan melalui pengamatan
langsung atau dengan generalisasi dari data-data yang diamati.Misalnya, “Tangan
saya berdarah” dan “Semua gagak bewarna hitam”.Jenis empiris yang kedua yaitu
ditentukan melalui percobaan dengan menggunakan hipotesis. Misalnya, “Rendahnya
kadar gula dalam darah mengakibatkan depresi”.[52]
Sifat normatif menggariskan apa yang seharusnya, bukan sekedar apa yang
diyakini. Klaim normatif dapat diungkapkan dalam bentuk prinsip umum, pertimbangan
khusus, atau mungkin merupakan makna tersirat dalam, misalnya saja suatu
konteks empiris. Contohnya, “Orang tidak boleh membunuh orang lain, kecuali
untuk mempertahankan diri” dan “semua orang tahu bahwa ilmu pengetahuan
seharusnya bebas dari pertimbangan-pertimbangan nilai dalam filsafat ilmu.”
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah
mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam aliran dan
cabang. Aliran-aliran dalam Filsafat meliputi realisme, rasionalisme, empirisme,
idealisme, materialisme, dan eksistensialisme. Sementara itu, Filsafat juga
memiliki cabang yang cukup banyak, di antaranya adalah metafisika,
epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, dan filsafat politik.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Beberapa
kesimpulan dari pembahasan ini, di antaranya:
a. Ilmu
mempunyai ciri khas yaitu menggunakan metode ekperimental yang menghasilkan
kebenaran berupa teori ilmiah melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris.
Ilmu adalah serangkaian usaha sadar manusia untuk menyelidiki, mengamati,
menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari kenyataan di dalam alam
semesta yang bersifat materil berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat
diuji secara sistematik dengan seperangkat metode ilmiah yang diakui dalam ilmu
tertentu sehingga memperoleh pembuktian berupa kebenaran ilmiah tentang sesuatu
yang dikajinya yang akan tetap diakui sampai ada pembuktian berikutnya dengan
bukti yang lebih kuat.
b. Filsafat
ilmu adalah menurut Yuyun S. Sumantri (1998:33) dalah Rahmat menguraikan bahwa
filsawat ilmu merupakan kajian secara filsafat yang bertujuan untuk menjawab
berbagai pertanyaan mengenai hakikat ilmu.
c. Filsafat
merupakan kegiatan berpikir tentang segala sesuatu secara kritis, sistematis,
rasional, tertib, konsepsual, koheren, luas, dan komprehensif (mendalam)
sehingga diperoleh hasil yang bijaksana yang mengandung nilai kebenaran
normatif.
B. Saran
Makalah ini tentunya masih jauh dari
kesempurnaan mengingat adanya keterbatasan literature yang digunakan. Oleh
karena itu, kritik dan sumbang saran yang bersifat untuk ke arah perbaikan
sangat di harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A.
Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu;Ontologi,Epistemologi, Aksiologi,
dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arbi, Sutan Zanti.
1988. Pengantar kepada Filsafat Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dikti.
Asy’ari. 1999. Filsafat
Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir. Yogyakarta: LESFI.
Abdullah, M. Amin.
1995. Falsafah Kalam di Era Posmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Beck. Lewis White.
1952. Philosophy Inquiry: an Introduction to Philosophy of Science. New
York: Prentice Hall.
J Bronowski, J. 1973. The Ascent of Man.
London: Science Horizons Inc.
Benjamin, A.
Cornalis. 1975. Science, Philosophy of dalam Dagabert D. R. Runer.
Totowa: Dictionary of Philosophy.
Calhoun, C. 2002. Dictionary
of the Social Science. Oxford: Oxford University Press.
Drummond, Henry. The
Ascent of Man. London: Cambridge.
Francis P. &
Dinnen, S.J. 1996. An Introduction to General Linguistic.New York: Holt,
Rinehart and Winston, INC.
John Losee. 2000. A
Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition.
London: Oxford University Press.
Kattsoff, Louis O.
2004. Pengantar Filsafat. Alih Bahasa oleh Soejono Soemargono.
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Lenzen, Viktor F.
1962. Philosophy of Science, Living School of Philosophy. New Jersey:
Littlefield, Adams & Co.
Mudyahardjo, Redja.
2012. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Muhadjir, Noeng.
2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Muslih, Mohammad.
2005. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori
Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar.
Phenix, Philip H.
1964.Realms of Meaning: A Philosophy of the Curriculum for General
Education. California: Ventura.
Preus, Anthony. 2007.Historical
Dictionary of Ancient Greek Philosophy. Lanham, Maryland, Toronto,
Plymouth, UK: The Scarecrow Press, Inc.
Prawironegoro,
Darsono. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta: Penerbit Nusantara
Consulting.
Qadir, C.A. 1988. Ilmu
Pengetahuan dan Metodenya.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rahmat, Aceng, dkk. Filsafat
Ilmu Lanjutan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Riyanto, Waryani
Fajar. 2011. Filsafat Ilmu Topik-topik Estimologi. Yogyakarta: Integrasi
Interrkoneksi Press.
Rohman, Arif
dkk.2011. Mengenal Epistimologi dan Logika Pendidikan.Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Setjoatmodjo,
Pranjoto. 1988. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dikti.
Sumardi, Edi
(Editor). 2015. Aids Bisa Disembuhkan, ini Obat Terbaru yang Ditemukan. tribunnews.com.
Diakses Tanggal 10 September 2015.
Surajiyo. 2007. Ilmu
Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun
S. 2001.Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan , 2001.
-------------------.
2010. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan.
-------------------.
1986. Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik. Jakarta: PT
Gramedia.
Syadali, Ahmad dan
Mudzakir. 1997.Filsafat Umum. Bandung: Pustaka
Setia.
------------------.
2004. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.
The Liang Gie. 2012. Pengantar
Ilmu Filsafat. Yogyakarta: Libert.
Verhaak, C. dan R.
Haryono Imam. 1995. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Wibowo, Pandu (Sekjen
CIDES UIN Jakarta) .2015.Pelegalan Prostitusi dan Sertifikasi PSK: Dekadensi
Moral Sang Gubernur Ibu Kota. kompasiana.com. Diakses Tanggal 10 September
2015.
Woodhouse, Mark B.
2000. Berfilsafat sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius.
Yunus, A. 1999.Filsafat
Pendidikan. Bandung: CV Citra Sarana Grafika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar