Pages

Tujuan Filsafat Imu

Kamis, 15 Oktober 2020

Agus Supriyadi

3. Tujuan Filsafat Imu


  1. Memperdalam unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh dapat dipahami sumber, hakikat, dan tujuan ilmu, 
  2. Memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan serta kemajuan ilmu diberbagai bidang sehingga dapat diperoleh gambaran proses penemuan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai pada zaman postmodern.
  3.  Mempertegas bahwa antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.[27]


      C.   Definisi Filsafat
Menurut Nadiroh filsafat adalah akar dari segala pengetahuan manusia baik pengetahuan ilmiah maupun pengetahuan non ilmiah.[28] Filsafat berasal dari kata philos dan shopia, philos artinya berpikir dan shopia artinya kebijaksanaan. Jadi filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan. Berpikir artinya mengolah data indrawi menjadi pengertian, atau proses mencari makna, dan kebijaksanaan artinya pengambilan keputusan yang memihak pada yang lemah. Dengan demikian filsafat dapat diartikan berpikir mendalam tentang data indrawi dan pengambilan keputusan yang memihak kepada pihak yang lemah.[29]
Sementara Suriasumantri mengatakan bahwa falsafah  diartikan sebagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatau sedalam-dalamnya.[30] Filsafat Ilmu merupakan bagian dari Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya.
Pengetahuan ialah hasil tahu manusia mengenai sesuatu objek, atau hasil  tahu karena diberitahu oleh orang lain. Tahu adalah hasil objek otak setelah mengolah pengalaman indrawi, atau setelah diberitahu orang lain. Hasil kerja otak setelah mengolah pengalaman indrawi disebut pengetahuan langsung, sedangkan hasil kerja otak setelah diberitahu orang lain disebut pengetahuan tidak langsung. [31] pengetahuan langsung diperoleh melalui praktek, sedangkan pengetahuan tidak langsung diperoleh melalui sekolah dan diskusi-diskusi. Pada dasarnya manusia menggunakan pengetahuannya sebagai dasar untuk bertindak.
Menurut Semiawan, otak manusia dewasa tidak lebih dari 1.5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berpikir, perilaku serta emosi manusia yang mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan, serta bahasa dan ingatannya.[32] 
Kearifan ialah perilaku manusia berdasar pengetahuan langsung (pengalaman sendiri) dan pengetahuan tidak langsung (pengalaman masyarakat). Manusia yang arif adalah manusia yang tingkah lakunya didasarkan pada pengetahuan masyarakat untuk membela kepentingan pihak lemah. Makin luas pengetahuan seseorang, makin arif perilakunya dan makin berpihak kepada pihak yang lemah.[33]
Kebijaksanaan ialah perilaku manusia berdasar ilmu untuk membela pihak yang lemah. Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu membuat keseimbangan dalam segala pikiran dan perilakunya, dan mempunyai pendirian teguh dalam mengambil keputusan yang memihak kepada yang lemah.[34]
Menurut Preus[35] kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata philia (= persahabatan, cinta dsb.) dan sophia yang bermakna ‘kebijaksanaan’. sehingga arti lughowinya (semantic) adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”.Sejajar dengan kata filsafat, kata filosofi juga dikenal di Indonesia dalam maknanya yang cukup luas dan sering digunakan oleh semua kalangan.
Kearifan berarti pengetahuan yang mendalam yang diawali proses perenungan dengan menghubungkannya dengan pengetahuan lain sehingga menemukan implikasi yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.[36] Kemudian, menurut Yunus[37] diterjemahkan menjadi “cinta akan kebenaran” yang bersumber dari kata philos (cinta) dan shopia (kebenaran).Walaupun cinta kebenaran, filsafat harus bersifat bebas, radikal, dan bermakna (Asy’ari, 1999). Bebas artinya tidak ada yang menghalangi kerja pikiran. Radikal artinya berpikir sampai ke akar-akar masalah (mendalam) bahkan sampai melewati batas-batas fisik atau disebut metafisis.Berpikir dalam tahap makna berarti menemukan makna terdalam dari sesuatu yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut bisa berupa nilai-nilai seperti kebenaran, keindahan maupun kebaikan.


Gambar 1.1: Bangunan Filsafat[38] yang mendorong lahirnya filsafat
FILSAFAT

MANUSIA BERPIKIR
KEKAGUMAN
KEHERANAN
KRITIS-DIALEKTIS

HAL-HAL YANG KONGKRET
 

 Menurut Prawironegoro, filsafat lahir karena keraguan (skeptic), kekaguman (keheranan), dan dari perilaku kritis (mempertanyakan) terhadap gejala alam dan social.[39]
Sementara Suriasumantri mengatakah bahwa lahirnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran terhadap dunia sekelilingnya. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, keherannya meluas pada berbagai hal karena persoalan manusia yang makin kompleks. Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang tuhan (akhirat), tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, dan lainnya.  Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk: Pertama, filsafat tentang pengetahuan; obyek materialnya,: pengetahuan ("episteme") dan kebenaran, epistemologi; logika; dan kritik ilmu-ilmu; Kedua, filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan, obyek materialnya: eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat), metafisika umum (ontologi); metafisika khusus: antropologi (tentang manusia); kosmologi (tentang alam semesta); teologi (tentang tuhan); Ketiga  filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan: obyek material: kebaikan dan keindahan,etika; danestetika; Keempat . sejarah filsafat; menyangkut dimensi ruang dan waktu dalam sebuah kajian.[40]
Jika dikelompokkan secara kerakterisitik cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat.  Ciri pemikiran filsafat mengacu pada tiga konsep pokok yakni persoalan filsafat bercorak sangat umum, persoalan filsafat tidak bersifat empiris, dan menyangkut masalah-masalah asasi.[41] Kemudian, Kattsoff menyatakan bahwa karakteristik filsafat dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan ; (2) pemikiran secara ketat dan kritis; (3) filsafat adalah berpikir dalam bentuknya yang sistematis; (4) filsafat bersifat koheren; (5) filsafat adalah berpikir secara rasional; dan (6) filsafat bersifat komprehensif. Jadi berpikir dalam filsafat mengandung makna berfikir tentang segala sesuatu yang ada secara kritis, sistematis, tertib,rasional dan komprehensif.[42]
Berbeda halnya dengan Alwasilah[43] yang berpendapat bahwa ibu dari segala ilmu pengetahuan karena filsafat sebagai kegiatan berpikir terhadap fenomena yang ada dengan metode dialektika (dialectic), yaitu suatu kajian konseptual dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, sejumlah jawaban, dan membangun berbagai implikasi dari jawaban-jawaban itu secara berkelanjutan dalam lingkaran tanpa titik akhir. Metode ini sering disebut sebagai dialek Socrates. Menurut Socrates (469-399 SM) cara terbaik untuk mendapatkan pengetahuan adalah lewat pembicaraan yang teratur (disciplined conversation) dengan memainkan peranan seorang intellectual midwife, yang memberi umpan sebagai rangsangan kepada seseorang untuk dipikirkan secara serius. Dialog semacam ini akan memunculkan titik temu (interplay) antar gagasan. Fungsi distingtif dari filsafat adalah interprestasi makna (the interprestation of meaning).
            Pekerjaan filsafat ialah mengkoordinasikan analisis, evaluasi, dan sintesis sehingga menghasilkan konstruksi pandangan sinoptik dari keseluruhan pengalaman manusia yang dapat diekspresikan sebagaimana dapat diinterpretasikan dalam kategori-kategori wacana rasional.[44] Atau dalam kata lain,filsafat sebagai usaha untuk mencoba memahami segala yang datang ke dalam pengalaman manusia. Usaha itu dimaksudkan untuk memperoleh suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, termasuk manusia, serta mendapatkan suatu penjelasan yang universal mengenai sifat dasar dari berbagai hal mengenai tempat dan nasib manusia sehingga mampu memahami dirinya dengan lebih baik, serta hubungannya dengan alam semesta dan pencipta alam semesta.[45].
Secara praktis filsafat dijelaskan oleh Syadali dan Mudzakir[46]  sebagai alam pikiran atau alam berpikir.Lebih lanjut beliau menjelaskan berfilsafat artinya berpikir. Namun, tidak semua berpikir berarti berfilsafat.Berfilsafat harus berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh tentang kebenaran segala sesuatu.Hal ini senada dengan pendapat Yunus[47], menurutnya filsafat berusaha merenungkan dan memikirkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan manusia, sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman serta mampu menggambarkan pandangan hakekat kebenaran yang menyeluruh dan sistematis.Dengan harapan memperoleh ide dasar yang bersifat fundamental (fundamental idea) dan membentuk cara berpikir kritis (critical thought), dan menjunjung tinggi kebebasan serta keterbukaan intelektual (intellectual freedom).[48]
Orang yang pertama kali menggunakan istilah filsafat adalah Phithagoras (572-497 M). Ketika itu ia ditanya oleh Leon tentang pekerjaannya, ia menjawab sebagai philosophis artinya pencinta kearifan atau kebijaksanaan. Secara umum filsafat mempunyai ciri-ciri: persoalan filsafat bercorak sangat dan tidak bersifat empiris, serta menyangkut masalah-masalah asasi.[49]  Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan).Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.Kemudian, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.).Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya.
            Kemudian Syadali dan Mudzakir[50] menjelaskan bahwa berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai kepada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan.Berpikir yang demikian sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persayaratan:

a.    Harus Sistematis
b.    Harus Konsepsional
c.    Harus Koheren
d.    Harus Rasional
e.    Harus Sinoptik
f.     Harus Mengarah kepada Pandangan Dunia

Filsafat merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang nonempirik dan noneksperimental yang diperoleh manusia melalui usahanya dengan pikirannnya yang mendalam. Mengenai objek materialnya, tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan, yakni mengenai apa saja. Adapun yang berbeda adalah mengenai objek formalnya. Objek formal filsafat mengenai sesuatu yang menyangkut sifat dasar, arti, nilai, dan hakikat dari sesuatu.Jadi bukan sesuatu yang dapat dijangkau dengan indera dan percobaan.Menjangkaunya hanyalah mungkin dengan pemikiran filosofis, yaitu pemikiran yang mendalam, logis, dan rasional. Di sini nilai kebenaran spekulatif, karena tidak mungkin diuji dengan metode empirik dan eksperimen. Oleh karena itu, biasanya dalam menghadapi hasil filsafati, orang hanya mengatakan aku cenderung pada pendapat ini, dan tidak setuju pada pendapat itu, dan sebagainya.Berbeda dengan agama kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan mengenai berbagai hal kehidupan manusia dan lingkungannya.Jadi kebenaran agama buka merupakan hasil usaha manusia. Manusia tinggal menerima begitu saja berbagai paket Tuhan dan kebenarannya bersifat mutlak karena bagi orang yang beriman diyakini bahwa datanya dari Tuhan yang Maha Kuasa, diberikan kepada manusia untuk dijadikan petunjuk dan pedoman hidupnya.[51]
Walaupun kajian filsafat bersifat nonempirik tetapi, harus juga dapat menjelaskan mengkaji persoalan-persoalan konseptual dengan argumen yang bersifat empiris (pengalaman), apriori (keyakinan-keyakinan yang juga tidak bisa disalahkan oleh pengalaman), dan normatif (apa yang seharusnya) Woodhouse. Sifat empiris merupakan keyakinan-keyakinan aposteriori bahwa sesuatu ternyata demikian dan didasarkan pada pengalaman. Jenis empiris pertama ditentukan melalui pengamatan langsung atau dengan generalisasi dari data-data yang diamati.Misalnya, “Tangan saya berdarah” dan “Semua gagak bewarna hitam”.Jenis empiris yang kedua yaitu ditentukan melalui percobaan dengan menggunakan hipotesis. Misalnya, “Rendahnya kadar gula dalam darah mengakibatkan depresi”.[52]
       Sifat normatif menggariskan apa yang seharusnya, bukan sekedar apa yang diyakini. Klaim normatif dapat diungkapkan dalam bentuk prinsip umum, pertimbangan khusus, atau mungkin merupakan makna tersirat dalam, misalnya saja suatu konteks empiris. Contohnya, “Orang tidak boleh membunuh orang lain, kecuali untuk mempertahankan diri” dan “semua orang tahu bahwa ilmu pengetahuan seharusnya bebas dari pertimbangan-pertimbangan nilai dalam filsafat ilmu.”
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam aliran dan cabang. Aliran-aliran dalam Filsafat meliputi realisme, rasionalisme, empirisme, idealisme, materialisme, dan eksistensialisme. Sementara itu, Filsafat juga memiliki cabang yang cukup banyak, di antaranya adalah metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, dan filsafat politik.

           
BAB V
PENUTUP

A.   Simpulan
      Beberapa kesimpulan dari pembahasan ini, di antaranya:
a.    Ilmu mempunyai ciri khas yaitu menggunakan metode ekperimental yang menghasilkan kebenaran berupa teori ilmiah melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris. Ilmu adalah serangkaian usaha sadar manusia untuk menyelidiki, mengamati, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari kenyataan di dalam alam semesta yang bersifat materil berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat diuji secara sistematik dengan seperangkat metode ilmiah yang diakui dalam ilmu tertentu sehingga memperoleh pembuktian berupa kebenaran ilmiah tentang sesuatu yang dikajinya yang akan tetap diakui sampai ada pembuktian berikutnya dengan bukti yang lebih kuat.
b.    Filsafat ilmu adalah menurut Yuyun S. Sumantri (1998:33) dalah Rahmat menguraikan bahwa filsawat ilmu merupakan kajian secara filsafat yang bertujuan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai hakikat ilmu.
c.    Filsafat merupakan kegiatan berpikir tentang segala sesuatu secara kritis, sistematis, rasional, tertib, konsepsual, koheren, luas, dan komprehensif (mendalam) sehingga diperoleh hasil yang bijaksana yang mengandung nilai kebenaran normatif.

B. Saran
Makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan mengingat adanya keterbatasan literature yang digunakan. Oleh karena itu, kritik dan sumbang saran yang bersifat untuk ke arah perbaikan sangat di harapkan.



DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu;Ontologi,Epistemologi, Aksiologi, dan  Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arbi, Sutan Zanti. 1988. Pengantar kepada Filsafat Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dikti.

Asy’ari. 1999. Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir. Yogyakarta: LESFI.

Abdullah, M. Amin. 1995. Falsafah Kalam di Era Posmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Beck. Lewis White. 1952. Philosophy Inquiry: an Introduction to Philosophy of Science. New York: Prentice Hall.

J Bronowski, J. 1973. The Ascent of Man. London: Science Horizons Inc.
Benjamin, A. Cornalis. 1975. Science, Philosophy of dalam Dagabert D. R. Runer. Totowa: Dictionary of Philosophy.

Calhoun, C. 2002. Dictionary of the Social Science. Oxford: Oxford University Press.

Drummond, Henry. The Ascent of Man. London: Cambridge.

Francis P. & Dinnen, S.J. 1996. An Introduction to General Linguistic.New York: Holt, Rinehart and Winston, INC.

John Losee. 2000. A Historical Introduction to the Philosophy of Science, Fourth edition. London: Oxford University Press.

Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Alih Bahasa oleh Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Lenzen, Viktor F. 1962. Philosophy of Science, Living School of Philosophy. New Jersey: Littlefield, Adams & Co.

Mudyahardjo, Redja. 2012. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhadjir, Noeng. 2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Muslih, Mohammad. 2005. Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar.

Phenix, Philip H. 1964.Realms of Meaning: A Philosophy of the Curriculum for General Education. California: Ventura.

Preus, Anthony. 2007.Historical Dictionary of Ancient Greek Philosophy. Lanham, Maryland, Toronto, Plymouth, UK: The Scarecrow Press, Inc.

Prawironegoro, Darsono. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta: Penerbit Nusantara Consulting.

Qadir, C.A. 1988. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Rahmat, Aceng, dkk. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Prenadamedia Group.

Riyanto, Waryani Fajar. 2011. Filsafat Ilmu Topik-topik Estimologi. Yogyakarta: Integrasi Interrkoneksi Press.

Rohman, Arif dkk.2011. Mengenal Epistimologi dan Logika Pendidikan.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Setjoatmodjo, Pranjoto. 1988. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dikti.

Sumardi, Edi (Editor). 2015. Aids Bisa Disembuhkan, ini Obat Terbaru yang Ditemukan. tribunnews.com. Diakses Tanggal 10 September 2015.

Surajiyo. 2007. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.

Suriasumantri, Jujun S. 2001.Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan , 2001.

-------------------. 2010. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

-------------------. 1986. Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik. Jakarta: PT Gramedia.

Syadali, Ahmad dan Mudzakir. 1997.Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.

------------------. 2004. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.

The Liang Gie. 2012. Pengantar Ilmu Filsafat. Yogyakarta: Libert.

Verhaak, C. dan R. Haryono Imam. 1995. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wibowo, Pandu (Sekjen CIDES UIN Jakarta) .2015.Pelegalan Prostitusi dan Sertifikasi PSK: Dekadensi Moral Sang Gubernur Ibu Kota. kompasiana.com. Diakses Tanggal 10 September 2015.

Woodhouse, Mark B. 2000. Berfilsafat sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius.

Yunus, A. 1999.Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Citra Sarana Grafika.

Subscribe your email address now to get the latest articles from us

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. FILSAFAT ILMU.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Support by Jual Beli Blog.
Creative Commons License